
Jamkesnews – Nyeri dada yang muncul berulang kali tidak boleh dianggap sepele. Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan aliran darah menuju otot jantung, terutama apabila disertai sesak napas, keringat dingin, mual, atau tubuh mudah lelah. Oleh karena itu, masyarakat Jawa Tengah dapat memanfaatkan layanan kesehatan melalui Program JKN yang dikelola BPJS Kesehatan untuk memperoleh pemeriksaan awal dan rujukan sesuai indikasi medis. Salah satu pemeriksaan lanjutan yang mungkin direkomendasikan dokter adalah pemeriksaan perfusi miokardium.
Jantung membutuhkan pasokan darah yang mengandung oksigen dan zat gizi agar dapat memompa darah ke seluruh tubuh. Pasokan tersebut dialirkan melalui pembuluh darah koroner. Namun, apabila pembuluh darah menyempit atau tersumbat, sebagian otot jantung bisa kekurangan oksigen. Kondisi inilah yang dapat menimbulkan nyeri dada atau angina, khususnya ketika tubuh sedang melakukan aktivitas.
Sayangnya, gangguan aliran darah tidak selalu terlihat ketika pasien sedang beristirahat. Karena itu, dokter mungkin memerlukan pemeriksaan yang dapat membandingkan keadaan jantung saat santai dan ketika bekerja lebih keras. Pemeriksaan perfusi miokardium dapat membantu memberikan gambaran tersebut secara lebih terperinci.
Apa Itu Pemeriksaan Perfusi Miokardium?
Pemeriksaan perfusi miokardium adalah prosedur pencitraan dalam bidang kedokteran nuklir yang digunakan untuk menilai distribusi aliran darah menuju otot jantung. Pemeriksaan ini juga dikenal sebagai sidik perfusi jantung atau myocardial perfusion imaging.
Dalam prosedurnya, tenaga kesehatan akan memberikan radiofarmaka melalui pembuluh darah. Bahan tersebut digunakan dalam bidang kedokteran nuklir untuk membantu proses diagnosis dan penilaian fungsi organ.
Daerah otot jantung yang memperoleh aliran darah cukup biasanya menyerap radiofarmaka dengan baik. Sebaliknya, area yang pasokan darahnya berkurang dapat terlihat berbeda pada hasil pemindaian. Meskipun demikian, hasil pemeriksaan tetap harus dibaca oleh dokter yang berkompeten dan tidak dapat ditafsirkan sendiri oleh pasien.
Pemeriksaan perfusi miokardium umumnya dilakukan dalam dua tahap, yaitu:
- Pemindaian saat istirahat (rest test), untuk menilai aliran darah ketika jantung tidak bekerja terlalu berat.
- Pemindaian saat stres (stress test), untuk melihat perubahan aliran darah ketika beban kerja jantung meningkat.
Perbandingan kedua hasil tersebut membantu dokter menentukan apakah gangguan aliran darah hanya muncul ketika pasien beraktivitas atau tetap terjadi saat tubuh sedang beristirahat.
Siapa yang Mungkin Memerlukan Pemeriksaan Ini?
Tidak semua orang yang mengalami nyeri dada harus langsung menjalani pemeriksaan perfusi miokardium. Dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, rekam jantung atau EKG, serta pemeriksaan lain yang diperlukan.
Namun, pemeriksaan ini dapat dipertimbangkan pada pasien dengan kondisi berikut:
- Mengalami nyeri, tekanan, atau rasa berat di dada.
- Mudah sesak napas ketika berjalan atau menaiki tangga.
- Memiliki hasil EKG yang belum memberikan informasi memadai.
- Diduga mengalami penyakit jantung koroner.
- Memiliki beberapa faktor risiko penyakit jantung.
- Pernah mengalami serangan jantung.
- Pernah menjalani pemasangan ring jantung.
- Pernah menjalani operasi bypass koroner.
- Membutuhkan penilaian risiko sebelum operasi tertentu.
- Memerlukan evaluasi terhadap efektivitas terapi penyakit jantung.
Selain itu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan ini kepada pasien diabetes karena gangguan pembuluh darah koroner terkadang muncul tanpa nyeri dada yang khas. Kondisi tersebut dikenal sebagai iskemia tanpa gejala atau silent ischemia.
Meskipun demikian, keputusan pemeriksaan tetap harus disesuaikan dengan kondisi pasien, hasil pemeriksaan sebelumnya, serta pertimbangan dokter spesialis.
Faktor Risiko Gangguan Pembuluh Darah Jantung
Risiko penyempitan pembuluh darah koroner dapat meningkat karena berbagai faktor. Beberapa di antaranya dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup, sedangkan faktor lainnya tidak dapat diubah.
Faktor risiko yang perlu diperhatikan meliputi:
- Kebiasaan merokok atau sering terpapar asap rokok.
- Tekanan darah tinggi.
- Kadar kolesterol yang tidak terkontrol.
- Diabetes melitus.
- Kelebihan berat badan atau obesitas.
- Kurang melakukan aktivitas fisik.
- Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
- Stres berkepanjangan.
- Usia yang semakin bertambah.
- Riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin penting pula melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Walaupun begitu, keberadaan faktor risiko tidak selalu berarti seseorang pasti mengalami penyakit jantung.
Bagaimana Prosedur Pemeriksaan Perfusi Miokardium?
Sebelum menjalani pemeriksaan, pasien akan memperoleh petunjuk dari rumah sakit. Instruksi tersebut perlu diikuti karena dapat memengaruhi ketepatan hasil pemindaian.
Secara umum, tahapan pemeriksaan perfusi miokardium meliputi beberapa langkah berikut.
1. Persiapan sebelum pemeriksaan
Tenaga medis akan menanyakan riwayat penyakit, obat yang sedang digunakan, alergi, serta kemungkinan kehamilan atau kondisi menyusui. Pasien juga harus menyampaikan apabila memiliki asma, gangguan irama jantung, atau pernah mengalami keluhan tertentu saat berolahraga.
Dokter mungkin meminta pasien menghindari makanan, minuman berkafein, atau obat tertentu sebelum pemeriksaan. Namun, pasien tidak boleh menghentikan obat sendiri tanpa petunjuk tenaga medis.
2. Pemasangan alat pemantauan
Sebelum uji beban dimulai, petugas akan memasang elektroda EKG untuk memantau aktivitas listrik jantung. Selain itu, tekanan darah, denyut nadi, dan keluhan pasien akan dipantau selama prosedur berlangsung.
3. Pemberian radiofarmaka
Radiofarmaka disuntikkan melalui pembuluh darah di lengan. Setelah itu, pasien biasanya diminta menunggu agar bahan tersebut terdistribusi menuju otot jantung. Lama waktu tunggu dapat berbeda-beda, tergantung protokol dan jenis radiofarmaka yang digunakan.
4. Pemindaian dalam kondisi istirahat
Pasien akan berbaring di meja pemeriksaan. Kemudian, kamera khusus bergerak atau berputar di sekitar dada untuk merekam distribusi radiofarmaka. Pada tahap ini, pasien perlu tetap tenang agar gambar yang dihasilkan tidak kabur.
5. Pelaksanaan uji beban
Uji beban dapat dilakukan dengan berjalan di atas treadmill atau mengayuh sepeda statis. Kecepatan dan tingkat kesulitannya ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan pasien.
Apabila pasien tidak dapat berolahraga, dokter dapat memberikan obat yang meningkatkan aliran darah koroner atau membuat jantung bekerja seolah-olah sedang beraktivitas. Selama proses tersebut, kondisi pasien akan dipantau dengan ketat.
6. Pemindaian setelah uji beban
Setelah beban kerja jantung meningkat dan radiofarmaka diberikan sesuai protokol, pemindaian kembali dilakukan. Dokter kemudian membandingkan gambar saat stres dengan gambar saat istirahat.
Seluruh rangkaian pemeriksaan dapat memerlukan waktu beberapa jam. Bahkan, pada protokol tertentu, tahap istirahat dan stres dapat dilakukan pada hari yang berbeda.
Apa Arti Hasil Pemeriksaannya?
Hasil pemeriksaan perfusi miokardium dapat memperlihatkan beberapa kemungkinan. Apabila distribusi aliran darah terlihat baik pada tahap istirahat maupun stres, pasokan darah menuju otot jantung kemungkinan berada dalam kondisi memadai.
Sementara itu, apabila aliran darah terlihat normal saat istirahat tetapi berkurang ketika stres, kondisi tersebut dapat mengarah pada iskemia. Artinya, bagian tertentu dari otot jantung mungkin mengalami kekurangan darahketika kebutuhan oksigen meningkat.
Jika gangguan terlihat pada pemindaian istirahat dan stres, dokter dapat mempertimbangkan adanya kerusakan atau jaringan parut akibat serangan jantung sebelumnya. Namun, kesimpulan akhir tidak hanya bergantung pada satu gambar. Dokter akan menghubungkannya dengan gejala, riwayat kesehatan, EKG, pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan jantung lainnya.
Berdasarkan hasil tersebut, pasien mungkin disarankan menjalani pengobatan, perubahan gaya hidup, pemeriksaan tambahan, angiografi koroner, pemasangan ring, atau tindakan lain. Pilihan penanganan tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Manfaat Pemeriksaan Perfusi Miokardium
Pemeriksaan ini dapat memberikan sejumlah manfaat dalam penilaian penyakit jantung. Pertama, dokter dapat mengetahui apakah terdapat bagian otot jantung yang mendapatkan pasokan darah lebih sedikit ketika bekerja.
Kedua, pemeriksaan dapat membantu memperkirakan luas area yang mengalami gangguan. Informasi tersebut penting untuk menentukan tingkat risiko dan merencanakan terapi.
Ketiga, pemeriksaan perfusi miokardium dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi pasien setelah pemasangan ring atau operasi bypass. Dengan demikian, dokter dapat menilai apakah aliran darah telah membaik atau masih terdapat gangguan.
Selain itu, pemeriksaan ini bisa memberikan informasi mengenai fungsi pompa jantung, termasuk pergerakan dinding jantung dan fraksi ejeksi, apabila menggunakan metode pemindaian tertentu.
Meski bermanfaat, pemeriksaan perfusi miokardium bukan satu-satunya metode untuk mendiagnosis penyakit jantung. Dokter dapat memilih pemeriksaan lain berdasarkan kebutuhan klinis pasien.
Apakah Pemeriksaan Kedokteran Nuklir Aman?
Kata “nuklir” sering membuat pasien merasa khawatir. Padahal, radiofarmaka yang dipakai untuk keperluan medis diberikan dalam dosis terukur. Penggunaannya juga dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dengan memperhatikan prinsip keselamatan radiasi.
Paparan radiasi tetap ada. Namun, dokter akan menimbang manfaat pemeriksaan dibandingkan risikonya. Karena itu, pemeriksaan hanya direkomendasikan apabila informasi yang diperoleh dinilai berguna bagi diagnosis atau penentuan terapi.
Sebagian besar radiofarmaka akan berkurang aktivitasnya dan dikeluarkan dari tubuh secara bertahap, terutama melalui urine. Setelah pemeriksaan, pasien mungkin dianjurkan minum air putih yang cukup dan lebih sering buang air kecil.
Pasien wajib memberi tahu petugas apabila sedang hamil, mungkin hamil, atau menyusui. Informasi tersebut diperlukan agar dokter dapat menentukan apakah pemeriksaan perlu ditunda, diganti, atau dilakukan dengan langkah perlindungan tertentu.
Selain paparan radiasi, risiko juga dapat berasal dari uji beban atau obat stres. Beberapa pasien mungkin mengalami pusing, mual, sakit kepala, sesak, jantung berdebar, atau rasa tidak nyaman di dada. Oleh sebab itu, pemantauan medis dilakukan sepanjang prosedur.
Pemeriksaan Perfusi Miokardium dan BPJS Kesehatan Jateng
Peserta JKN di Jawa Tengah yang mengalami nyeri dada sebaiknya memulai pemeriksaan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama atau FKTP tempatnya terdaftar, misalnya puskesmas, klinik, atau dokter keluarga. Dokter akan melakukan penilaian awal dan memberikan penanganan sesuai kondisi pasien.
Apabila dibutuhkan pemeriksaan dan perawatan oleh dokter spesialis, pasien dapat dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan atau FKRTL. Selanjutnya, dokter spesialis menentukan apakah pemeriksaan perfusi miokardium memang memiliki indikasi medis.
Perlu dipahami bahwa tidak semua rumah sakit di Jawa Tengah memiliki fasilitas kedokteran nuklir. Karena itu, pasien dapat dirujuk menuju rumah sakit yang mempunyai peralatan, dokter, dan layanan yang sesuai. Penjaminan pelayanan juga mengikuti indikasi medis, ketentuan Program JKN, prosedur rujukan, status kepesertaan, serta kerja sama fasilitas kesehatan dengan BPJS Kesehatan.
Peserta dapat memanfaatkan aplikasi Mobile JKN untuk melihat informasi kepesertaan, fasilitas kesehatan, surat rujukan, dan antrean pelayanan apabila fasilitas terkait telah menyediakan layanan tersebut. Meski demikian, peserta sebaiknya tetap menghubungi rumah sakit tujuan untuk memastikan jadwal, persyaratan, dan ketersediaan pemeriksaan.
Dalam keadaan gawat darurat, seperti nyeri dada berat yang tidak mereda, sesak hebat, keringat dingin, pingsan, atau nyeri menjalar ke lengan dan rahang, pasien tidak perlu menunggu rujukan rutin. Segera datangi instalasi gawat darurat terdekat.
Cara Menjaga Kesehatan Jantung Setiap Hari
Pemeriksaan medis dapat membantu mendeteksi gangguan, tetapi pencegahan tetap menjadi langkah penting. Oleh sebab itu, beberapa kebiasaan berikut perlu diterapkan secara konsisten:
- Kurangi makanan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh.
- Perbanyak sayur, buah, biji-bijian, dan sumber protein rendah lemak.
- Lakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan tubuh.
- Pertahankan berat badan dalam rentang yang sehat.
- Hentikan kebiasaan merokok.
- Batasi konsumsi minuman beralkohol.
- Kelola stres dan cukupi waktu tidur.
- Periksa tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala.
- Minum obat sesuai anjuran dokter.
- Jangan mengabaikan nyeri dada yang muncul berulang.
- Jangan Menunda Pemeriksaan Nyeri Dada
Nyeri dada dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari gangguan otot dan lambung hingga penyakit jantung. Oleh karena itu, penyebabnya tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan lokasi atau tingkat rasa sakit.
Pemeriksaan perfusi miokardium membantu dokter melihat bagaimana darah mengalir menuju otot jantung saat istirahat dan ketika bekerja lebih keras. Dengan informasi tersebut, gangguan aliran darah dapat dinilai secara lebih terarah sehingga dokter bisa menentukan penanganan yang sesuai.
Bagi peserta JKN di Jawa Tengah, manfaatkan layanan FKTP serta sistem rujukan BPJS Kesehatan sesuai prosedur. Yang paling penting, segera cari pertolongan medis apabila nyeri dada terasa berat, berlangsung lama, atau disertai sesak napas, pingsan, mual, dan keringat dingin.