
Jamkesnews – Kesehatan gusi sering kali kurang diperhatikan karena masalah pada area tersebut tidak selalu menimbulkan sakit yang hebat. Padahal, gusi merupakan jaringan penting yang melindungi akar sekaligus membantu mempertahankan posisi gigi. Pada 2026, peserta aktif BPJS Kesehatan yang mengalami gusi membengkak, mudah berdarah, atau bau mulut berkepanjangan dapat memulai pemeriksaan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tempatnya terdaftar sesuai ketentuan Program JKN. Pemeriksaan sejak dini penting dilakukan agar peradangan tidak berkembang menjadi kerusakan jaringan penyangga gigi.
Radang gusi atau gingivitis merupakan peradangan pada jaringan gusi yang biasanya bermula dari penumpukan plak. Kondisi ini dapat berlangsung secara perlahan sehingga penderitanya tidak segera menyadari perubahan yang terjadi. Meskipun pada tahap awal umumnya masih dapat dipulihkan, radang gusi yang dibiarkan berlarut-larut berisiko berkembang menjadi periodontitis.
Ketika sudah mencapai tahap periodontitis, peradangan tidak hanya terjadi pada permukaan gusi. Infeksi dapat merusak jaringan ikat dan tulang yang menyangga gigi. Akibatnya, gusi menyusut, gigi menjadi goyang, bahkan akhirnya tanggal. Oleh karena itu, mengenali gejala dan memperoleh perawatan yang tepat merupakan langkah penting untuk mencegah kerusakan permanen.
Mengenal Radang Gusi Kronis
Radang gusi kronis merupakan peradangan yang berkembang secara bertahap dan dapat bertahan dalam waktu lama. Untuk membantu memperoleh pemeriksaan sejak dini, peserta aktif BPJS Kesehatan Jateng pada 2026 dapat mendatangi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tempatnya terdaftar sesuai prosedur Program JKN. Penanganan diperlukan karena gangguan ini sering hanya menimbulkan keluhan ringan, meskipun peradangan pada jaringan gusi terus berlangsung.
Pada sebagian orang, gusi hanya berdarah ketika menyikat gigi. Sementara itu, orang lain mungkin mengalami pembengkakan, perubahan warna gusi, atau bau mulut yang terus berulang. Karena keluhannya tidak selalu menyakitkan, penderita sering menunda pemeriksaan sampai jaringan pendukung gigi mulai mengalami kerusakan.
Selain itu, istilah gingivitis dan periodontitis perlu dibedakan. Gingivitis terbatas pada jaringan gusi dan biasanya belum menyebabkan kehilangan tulang. Sebaliknya, periodontitis sudah melibatkan jaringan penyangga gigi yang lebih dalam. Dengan demikian, pemeriksaan dokter gigi diperlukan untuk menentukan tingkat keparahan penyakit.
Gejala Radang Gusi yang Perlu Diwaspadai
Gejala radang gusi dapat berbeda pada setiap orang. Meskipun demikian, beberapa tanda berikut sebaiknya tidak diabaikan:
- Gusi mudah berdarah ketika menyikat gigi atau menggunakan benang gigi.
- Warna gusi berubah menjadi merah terang, merah tua, atau keunguan.
- Gusi tampak membengkak, terasa lunak, dan lebih sensitif saat disentuh.
- Bau mulut tetap muncul meskipun gigi sudah dibersihkan.
- Terdapat rasa tidak nyaman ketika mengunyah makanan.
- Gusi mulai menjauh dari permukaan gigi sehingga gigi tampak lebih panjang.
- Muncul celah baru di antara gigi akibat perubahan jaringan gusi.
- Gigi menjadi lebih sensitif terhadap makanan panas atau dingin.
- Terdapat nanah di antara gusi dan gigi.
- Gigi terasa goyang atau mengalami perubahan posisi.
Gusi berdarah sesekali dapat terjadi akibat tekanan menyikat yang terlalu kuat. Namun, apabila perdarahan muncul berulang kali, kondisi tersebut perlu diperiksa. Terlebih lagi, pemeriksaan sebaiknya segera dilakukan jika keluhan disertai pembengkakan berat, demam, nanah, nyeri hebat, atau kesulitan membuka mulut.
Penyebab Utama Radang Gusi Kronis
Pemicu utama peradangan gusi adalah tumpukan plak gigi. Lapisan lunak ini terbentuk dari kumpulan mikroorganisme yang bercampur dengan sisa makanan dan zat di dalam air liur. Jika kebersihan mulut kurang terjaga, endapan tersebut akan semakin banyak, khususnya pada sela gigi dan sepanjang garis gusi.
Apabila plak tidak dibersihkan secara teratur, lapisan tersebut dapat mengeras menjadi karang gigi atau kalkulus. Berbeda dengan plak lunak, karang gigi tidak dapat dihilangkan secara tuntas hanya dengan menyikat gigi. Permukaannya yang kasar juga memudahkan lebih banyak plak menempel. Akibatnya, peradangan dapat terus berlangsung.
Selain kebersihan mulut yang kurang baik, beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko radang gusi:
1. Kebiasaan Merokok
Kandungan dalam rokok dapat memengaruhi aliran darah dan respons pertahanan jaringan gusi. Selain itu, merokok bisa menyamarkan tanda perdarahan sehingga penyakit tampak lebih ringan daripada kondisi sebenarnya. Proses penyembuhan setelah perawatan gigi pun dapat berlangsung lebih lambat.
2. Perubahan Hormon
Perubahan hormon selama kehamilan, pubertas, menstruasi, atau menopause dapat membuat gusi lebih sensitif terhadap plak. Oleh sebab itu, kebersihan gigi perlu lebih diperhatikan selama periode tersebut.
3. Penyakit Tertentu
Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko gangguan pada jaringan periodontal. Sebaliknya, peradangan di rongga mulut juga dapat mempersulit pengendalian gula darah. Selain diabetes, gangguan kekebalan tubuh dan kondisi medis tertentu dapat memengaruhi kesehatan gusi.
4. Penggunaan Obat
Beberapa jenis obat dapat menyebabkan mulut kering atau pertumbuhan jaringan gusi secara berlebihan. Ketika produksi air liur berkurang, proses pembersihan alami di dalam mulut juga terganggu. Namun, obat tidak boleh dihentikan sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter yang meresepkannya.
5. Gigi atau Restorasi yang Sulit Dibersihkan
Susunan gigi yang tidak teratur, tambalan yang tidak sesuai, gigi berlubang, serta gigi palsu yang kurang pas dapat menjadi tempat berkumpulnya plak. Karena sulit dijangkau sikat gigi, bakteri dapat bertahan lebih lama pada area tersebut.
6. Pola Makan dan Mulut Kering
Konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan dapat mendukung pertumbuhan bakteri di rongga mulut. Di sisi lain, kurang minum, kebiasaan bernapas melalui mulut, atau kondisi yang menyebabkan mulut kering juga dapat meningkatkan risiko gangguan gusi.
Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?
Diagnosis dimulai dengan menanyakan keluhan, kebiasaan membersihkan gigi, riwayat merokok, obat yang dikonsumsi, dan kondisi kesehatan pasien. Selanjutnya, dokter akan memeriksa warna, bentuk, pembengkakan, perdarahan, serta penumpukan plak dan karang gigi.
Dokter juga dapat mengukur kedalaman ruang di antara gigi dan gusi menggunakan alat khusus. Pemeriksaan ini membantu menilai apakah peradangan masih terbatas pada gusi atau sudah membentuk kantong periodontal. Apabila dicurigai terjadi kerusakan tulang, foto Rontgen gigi mungkin diperlukan.
Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat membedakan gingivitis dari periodontitis. Diagnosis yang tepat sangat penting karena metode perawatan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit.
Cara Mengobati Radang Gusi Kronis
Perawatan bertujuan menghilangkan penyebab peradangan, mengendalikan infeksi, serta mencegah penyakit datang kembali. Berikut beberapa tindakan yang dapat direkomendasikan:
1. Pembersihan Karang Gigi
Scaling dilakukan untuk mengangkat plak dan karang gigi yang menempel pada permukaan gigi maupun di sekitar garis gusi. Tindakan ini merupakan bagian penting dalam menangani radang gusi akibat penumpukan kalkulus.
Jika peradangan sudah mencapai bagian bawah gusi, dokter mungkin menyarankan pembersihan jaringan periodontal secara lebih mendalam. Melalui tindakan root planing, permukaan akar gigi dirapikan sekaligus dibersihkan dari endapan dan mikroorganisme sehingga proses pemulihan gusi dapat berlangsung lebih optimal.
2. Memperbaiki Faktor Pemicu
Tambalan yang rusak, gigi berlubang, atau gigi palsu yang tidak pas perlu dievaluasi. Dengan memperbaiki area yang sulit dibersihkan, penumpukan plak dapat dikurangi. Selain itu, dokter dapat mengajarkan teknikmenyikat dan membersihkan sela gigi yang sesuai dengan kondisi pasien.
3. Penggunaan Obat Sesuai Indikasi
Dalam keadaan tertentu, dokter mungkin memberikan obat kumur antiseptik untuk membantu mengendalikan bakteri. Penggunaan produk yang mengandung chlorhexidine, misalnya, harus mengikuti petunjuk karena pemakaian terlalu lama dapat menimbulkan noda pada gigi atau mengubah persepsi rasa.
Antibiotik juga tidak selalu diperlukan untuk setiap kasus radang gusi. Obat tersebut hanya digunakan apabila terdapat indikasi infeksi tertentu berdasarkan hasil pemeriksaan dokter. Oleh karena itu, pasien tidak dianjurkan membeli atau mengonsumsi antibiotik sendiri.
4. Perawatan Periodontitis
Jika radang sudah berkembang menjadi periodontitis, pasien mungkin memerlukan perawatan periodontal lanjutan. Pada kondisi yang berat, dokter dapat mempertimbangkan tindakan bedah untuk membersihkan kantong gusi, memperbaiki jaringan, atau menangani gigi yang tidak dapat dipertahankan.
Pengobatan Radang Gusi dengan BPJS Kesehatan pada 2026
Pada 2026, peserta JKN dengan status kepesertaan aktif dapat memulai pemeriksaan keluhan gusi melalui FKTP terdaftar yang menyediakan pelayanan dokter gigi. Peserta perlu mengikuti prosedur pelayanan serta menunjukkan identitas peserta, misalnya melalui kartu digital di Aplikasi Mobile JKN atau dokumen identitas yang berlaku.
Dokter gigi akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk menentukan diagnosis dan kebutuhan tindakan. Apabila scaling atau tindakan lainnya memiliki indikasi medis berdasarkan hasil pemeriksaan, pelayanannya dapat diberikan sesuai ketentuan, manfaat, dan prosedur Program JKN. Dengan demikian, scaling untuk tujuan kosmetik atau pembersihan rutin tanpa indikasi medis tidak dapat langsung dianggap sebagai layanan yang dijamin.
Jika kasus memerlukan penanganan spesialis atau fasilitas yang lebih lengkap, pasien dapat memperoleh rujukan berdasarkan pertimbangan medis. Namun, cakupan tindakan, ketersediaan dokter gigi, dan jadwal pelayanan dapat berbeda di setiap fasilitas. Oleh sebab itu, peserta sebaiknya memeriksa status kepesertaan dan menghubungi FKTP terlebih dahulu melalui Mobile JKN atau kanal resmi BPJS Kesehatan.
Cara Mencegah Radang Gusi Kembali
Keberhasilan perawatan tidak hanya bergantung pada tindakan dokter. Pasien juga perlu menjaga kebersihan mulut secara konsisten dengan cara berikut:
- Menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida.
- Memakai sikat berbulu lembut dan tidak menekan gusi terlalu keras.
- Membersihkan sela gigi menggunakan benang gigi atau sikat interdental.
- Membersihkan lidah untuk membantu mengurangi bakteri dan bau mulut.
- Membatasi makanan serta minuman yang tinggi gula.
- Menghindari rokok dan produk tembakau lainnya.
- Mengontrol diabetes dan penyakit penyerta sesuai anjuran dokter.
- Menjalani pemeriksaan gigi secara berkala berdasarkan tingkat risiko.
Selain itu, jangan menghentikan kegiatan menyikat gigi hanya karena gusi berdarah. Sikatlah secara perlahan dengan teknik yang benar, kemudian konsultasikan perdarahan yang terus berulang kepada dokter gigi.
Kapan Harus Segera ke Dokter Gigi?
Pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda apabila gusi berdarah selama beberapa hari, pembengkakan semakin besar, atau bau mulut tidak membaik. Begitu pula jika gusi mengeluarkan nanah, gigi mulai goyang, terdapat demam, atau nyeri mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, radang gusi kronis bukan sekadar masalah penampilan maupun bau mulut. Penyakit ini dapat berkembang tanpa rasa sakit yang berarti, tetapi perlahan merusak jaringan pendukung gigi. Oleh karena itu, kebersihan mulut yang baik, penghentian kebiasaan merokok, serta pemeriksaan dokter gigi sejak dini menjadi langkah utama untuk mempertahankan gigi dalam jangka panjang.
Informasi medis mengenai tanda, pemeriksaan, dan penanganan radang gusi dapat dilihat melalui laman Kementerian Kesehatan tentang radang gusi. Ketentuan layanan JKN dapat berubah, sehingga informasi manfaat BPJS Kesehatan pada 2026 sebaiknya dikonfirmasi kembali melalui kanal resmi atau FKTP peserta.